DAFTAR MEMBER ORIFLAME

DAFTAR MEMBER ORIFLAME
CEPAT DAN GA RIBET !
Tampilkan postingan dengan label HEMATOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HEMATOLOGI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2012

ANALISA GAS DARAH


Pemeriksaan Analisa Gas Darah (ASTRUP)


DEFINISI
Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai:
Keseimbangan asam basa dalam tubuh, Kadar oksigenasi dalam darah, Kadar karbondioksida dalam darah
Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah:
- PH normal 7,35-7,45
- Pa CO2 normal 35-45 mmHg
- Pa O2 normal 80-100 mmHg
- Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l
- HCO3 normal 21-30 mEq/l
- Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3
- Saturasi O2 lebih dari 90%.
Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan “ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis.
 PROSEDUR PENGAMBILAN GAS DARAH ARTERI
A. Alat
- Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml
- Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi)
- Jarum nomor 22 atau 25
- Penutup udara dari karet
- Kapas alcohol
- Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik)
- Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi:
a. Nama, tanggal dan waktu
b. Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa
f. Suhu
 B. Tekhnik
  1. Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakhialis juga dapat digunakan
  2. Bila menggunakan pendekatan arteri radialis lakukan tes Allen’s. Secara terus menerus bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan akan putih kemudian pucat. Lepaskan aliran arteri ulnaris. Tes allen’s positif bila tangan kembali menjadi berwarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri bila aliran arteri radialis tidal paten
  3. Pergelangan tangan dihiperekstensikan dan tangan dirotasi keluar
a. Penting sekali untuk melakukan hiperekstensi pergelangan tangan
biasanya menggunakan gulungan handuk untuk melakukan ini
b. Untuk pungsi arteri brakialis, siku dihiperekstensikan setelah
Meletakkan handuk di bawah siku
  1. 1 ml heparin diaspirasi kedalam spuit, sehingga dasar spuit basah dengan heparin, dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum, dilakukan perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak ada gelembung udara
  2. Arteri brakialis atau radialis dilokalisasi dengan palpasi dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan titik maksimum denyut ditemukan. Bersihkan tempat tersebut dengan kapas alcohol
  3. Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang mempunyai pulsasi penuh. Ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan spuit kurang lebih 45-90 derajat terhadap kulit
  4. Seringkali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan hanya dengan jarum ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit
  5. Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah arteri adalah adanya pemompaan darah kedalam spuit dengan kekuatannya sendiri
Bila kita harus mengaspirasi darah dengan menarik plunger spuit ini kadang-kadang diperlukan pada spuit plastik yang terlalu keras sehingga tak mungkin darah tersebut positif dari arteri.Hasil gas darah tidak memungkinkan kita untuk menentukan apakah darah dari arteri atau dari vena
  1. Setelah darah 5 ml diambil, jarum dilepaskan dan petugas yang lain menekan area yang di pungsi selama sedikitnya 5 menit (10 menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan)
  2. Gelembung udara harus dibuang keluar spuit. Lepaskan jarum dan tempatkan penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak tangan untuk mencampurkan heparin
  3. Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es atau air es, kemudian dibawa kelaboratorium
 ANALISA
Jenis gangguan asam basa
PH
Total CO2
PCO2
Asidosis respiratorik tidak terkonpensasi
Alkalosis respiratorik tidak terkonfensasi
Asidosis metabolic tidak terkonfensasi
Alkalosis metabolic tidak terkonfensasi
Asidosis respiratorik kompensasi alkalosis metabolic
Alkalosis respiratorik kompensasi asidosis metabolic
Asidosis metabolic kompensasi alkalosis respiratorik
Alkalosis metabolic kompensasi asidosis respiratorik
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi
Normal
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Normal
Rendah
Tinggi

HEMATURIA


What is hematuria?

Hematuria is blood in the urine. Two types of blood in the urine exist. Blood that can be seen in the urine is called gross hematuria. Blood that cannot be seen in the urine, except when examined with a microscope, is called microscopic hematuria.
Drawing of the urinary tract in the outline of a male figure.
The urinary tract

What are the symptoms of hematuria?

Most people with microscopic hematuria do not have symptoms. People with gross hematuria have urine that is pink, red, or cola-colored due to the presence of red blood cells (RBCs). Even a small amount of blood in the urine can cause urine to change color. In most cases, people with gross hematuria do not have other symptoms. However, people with gross hematuria that includes blood clots in the urine may have pain.

What is the urinary tract?

The urinary tract is the body’s drainage system for removing wastes and extra water. The urinary tract includes two kidneys, two ureters, a bladder, and a urethra. The kidneys are two bean-shaped organs, each about the size of a fist. They are located near the middle of the back, just below the rib cage, one on each side of the spine. Every day, the two kidneys process about 200 quarts of blood to produce about 1 to 2 quarts of urine, composed of wastes and extra water. The urine flows from the kidneys to the bladder through tubes called ureters. The bladder stores urine until releasing it through urination. When the bladder empties, urine flows out of the body through a tube called the urethra at the bottom of the bladder.

What causes hematuria?

Hematuria can be caused by menstruation, vigorous exercise, sexual activity, viral illness, trauma, or infection, such as a urinary tract infection (UTI). More serious causes of hematuria include
  • cancer of the kidney or bladder
  • inflammation of the kidney, urethra, bladder, or prostate—a walnut-shaped gland in men that surrounds the urethra at the neck of the bladder and supplies fluid that goes into semen
  • polycystic kidney disease—an inherited disorder characterized by many grape-like clusters of fluid-filled cysts that make both kidneys larger over time, taking over and destroying working kidney tissue
  • blood clots
  • blood clotting disorders, such as hemophilia
  • sickle cell disease—an inherited disorder in which RBCs form an abnormal crescent shape, resulting in less oxygen delivered to the body’s tissues, clogging of small blood vessels, and disruption of healthy blood flow

Who is at risk for hematuria?

Almost anyone, including children and teens, can have hematuria. Factors that increase the chance a person will have hematuria include
  • a family history of kidney disease
  • an enlarged prostate, which typically occurs in men age 50 or older
  • urinary stone disease
  • certain medications including aspirin and other pain relievers, blood thinners, and antibiotics
  • strenuous exercise such as long-distance running
  • a recent bacterial or viral infection

How is hematuria diagnosed?

Hematuria is diagnosed with urinalysis, which is testing of a urine sample. The urine sample is collected in a special container in a health care provider’s office or commercial facility and can be tested in the same location or sent to a lab for analysis. For the test, a nurse or technician places a strip of chemically treated paper, called a dipstick, into the urine. Patches on the dipstick change color when RBCs are present in urine. When blood is visible in the urine or a dipstick test of the urine indicates the presence of RBCs, a health care provider examines the urine with a microscope to make an initial diagnosis of hematuria. The next step is to diagnose the cause of the hematuria.
The health care provider will take a thorough medical history. If the history suggests a cause that does not require treatment, the urine should be tested again after 48 hours for the presence of RBCs. If two of three urine samples show too many RBCs when viewed with a microscope, more serious causes should be explored. The health care provider may order one or more of the following tests:
  • Urinalysis. Further testing of the urine may be done to check for problems that can cause hematuria, such as infection, kidney disease, and cancer. The presence of white blood cells signals a UTI. RBCs that are misshapen or clumped together to form little tubes, called casts, may indicate kidney disease. Large amounts of protein in the urine, called proteinuria, may also indicate kidney disease. The urine can also be tested for the presence of cancer cells.
  • Blood test. A blood test involves drawing blood at a health care provider’s office or commercial facility and sending the sample to a lab for analysis. A blood test can show the presence of high levels of creatinine, a waste product of normal muscle breakdown, which may indicate kidney disease.
  • Biopsy. A biopsy is a procedure that involves taking a piece of kidney tissue for examination with a microscope. The biopsyis performed by a health care provider in a hospital with light sedation and local anesthetic. The health care provider uses imaging techniques such as ultrasound or a computerized tomography (CT) scan to guide the biopsy needle into the kidney. The kidney tissue is examined in a lab by a pathologist—a doctor who specializes in diagnosing diseases. The test helps diagnose the type of kidney disease causing hematuria.
  • Cystoscopy. Cystoscopy is a procedure that uses a tubelike instrument to look inside the urethra and bladder. Cystoscopy is performed by a health care provider in the office, an outpatient facility, or a hospital with local anesthesia. However, in some cases, sedation and regional or general anesthesia are needed. Cystoscopy may be used to look for cancer cells in the bladder, particularly if cancer cells are found with urinalysis. For more information about cystoscopy, see the National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC) fact sheet Cystoscopy and Ureteroscopy at www.urologic.niddk.nih.gov.
  • Kidney imaging tests. Intravenous pyelogram (IVP) is an x ray of the urinary tract. A special dye, called contrast medium, is injected into a vein in the person’s arm, travels through the body to the kidneys, and makes urine visible on the x ray. The contrast medium also shows any blockage in the urinary tract. When a small mass is found with IVP, another imaging test, such as an ultrasound, CT scan, or magnetic resonance imaging (MRI), can be used to further study the mass. Imaging tests are performed in an outpatient center or hospital by a specially trained technician, and the images are interpreted by a radiologist—a doctor who specializes in medical imaging. Anesthesia is not needed, though light sedation may be used in some cases. Imaging tests may show a tumor, a kidney or bladder stone, an enlarged prostate, or other blockage of the normal flow of urine. For more information about imaging tests used to examine the urinary tract, see the NKUDIC fact sheet Imaging of the Urinary Tract atwww.urologic.niddk.nih.gov.

How is hematuria treated?

Hematuria is treated by treating its underlying cause. If no serious condition is causing hematuria, no treatment is needed. Hematuria caused by a UTI is treated with antibiotics; urinalysis should be repeated 6 weeks after antibiotic treatment ends to be sure the infection has resolved.

Eating, Diet, and Nutrition

Eating, diet, and nutrition have not been shown to play a role in causing or preventing hematuria.

Points to Remember

  • Hematuria is blood in the urine.
  • Most people with microscopic hematuria do not have symptoms. People with gross hematuria have urine that is pink, red, or cola-colored due to the presence of red blood cells (RBCs).
  • Hematuria can be caused by menstruation, vigorous exercise, sexual activity, viral illness, trauma, or infection, such as a urinary tract infection (UTI). More serious causes of hematuria include
    • cancer of the kidney or bladder
    • inflammation of the kidney, urethra, bladder, or prostate
    • polycystic kidney disease
    • blood clots
    • blood clotting disorders, such as hemophilia
    • sickle cell disease
  • When blood is visible in the urine or a dipstick test of the urine indicates the presence of RBCs, the urine is examined with a microscope to make an initial diagnosis of hematuria. The next step is to diagnose the cause of the hematuria.
  • If a thorough medical history suggests a cause that does not require treatment, the urine should be tested again after 48 hours for the presence of RBCs. If two of three urine samples show too many RBCs when viewed with a microscope, more serious causes should be explored.
  • One or more of the following tests may be ordered: urinalysis, blood test, biopsy, cytoscopy, and kidney imaging tests.
  • Hematuria is treated by treating its underlying cause.

Hope through Research

In recent years, researchers have learned a great deal about kidney disease. The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) sponsors several programs aimed at understanding kidney and urologic problems that can lead to hematuria. The NIDDK’s Division of Kidney, Urologic, and Hematologic Diseases supports basic research into normal kidney function and the diseases that impair normal function at the cellular and molecular levels, including diabetes, high blood pressure, glomerulonephritis, and cystic kidney diseases.
Participants in clinical trials can play a more active role in their own health care, gain access to new research treatments before they are widely available, and help others by contributing to medical research. For information about current studies, visit www.ClinicalTrials.gov.

Selasa, 15 Mei 2012

Cuci Darah ? Jangan Takut !



Cuci darah ( hemodialisa) sering jadi momok yang menakutkan bagi pasien. Banyak pasien yang seharusnya menjalani cuci darah, tapi menolak. Cuci darah merupakan satu tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien penderita gagal ginjal.

Nampaknya ada beberapa hal yang menyebabkab orang takut cuci darah:
*ketidaktahuan mereka seperti apa prosedur cuci darah. Mendengar namanya saja sudah seram, “cuci darah”
*kebanyakan mereka menyimpulkan orang-orang yang cuci darah umurnya tidak panjang. Si A 3 bulan setelah cuci darah meninggal dunia, si B 1 tahun sesudah cuci darah juga meninggal, dan seterusnya.
* masalah biaya. Cuci darah memang cukup mahal. Dan umumnya pasien gagal ginjal kronik akan membutuhkan cuci darah sepanjang hidupnya. Bahkan frekwensinya bisa rutin 2x seminggu dengan biaya 1x sekitar 700 ribu. Bayangkan kalau 1 bulan, 1 tahun, berapa biayanya.

Ketidaktahuan pasien bagaimana proses cuci darah ini biasanya bisa di atasi dengan menyuruh pasien/keluarganya melihat langsung ke ruangan Hemodialisa. Pasien-pasien yang sedang cuci darah, sama seperti pasien lainnya, dapat tidur santai, ngobrol-ngobrol dengan pasien lain, nonton TV, internetan dan sebagainya sambil darahnya di cuci. Prosedurnya tidak se seram yang di bayangkan. Mungkin namanya perlu diganti ya, cukup di sebut hemodialisa saja biar pasien tidak takut mendengarnya.

Pasien cuci darah umurnya tidak panjang? Soal umur kita tidak bisa ikut campur. Itu sudah ketetapanNya. Dokter ataupun tindakan medis bukanlah untuk memperpanjang hidup pasien. Namun hanya membantu (dengan se izin Allah) meringankan keluhan-keluhan. Kalaupun pasien memang sudah datang ajalnya, diharapkan meninggalnya dengan berkualitas, tidak dalam kondisi sakit yang tak tertahankan. Secara statistik, angka harapan hidup penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah jauh lebih tinggi dibanding tanpa cuci darah. Memang ada orang yang baru beberapa kali cuci darah, sudah meninggal. Atau 1 tahun cuci darah meninggal. Tapi banyak yang sudah bertahun-tahun bahkan lebih dari 20 tahun rutin cuci darah, kondisinya masih fit dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa.

Masalah biaya. Kalau ini yang dipermasalahkan pasien, kita memang tidak bisa ikut campur. Biayanya memang mahal. Untuk kalangan menengah ke bawah ini memang sangat sulit. Yang sangat disayangkan adalah orang-orang yang mempunyai jaminan asuransi kesehatan (askes, jamkesmas, dan sebagainya) yang bisa menanggung biaya cuci darah, tapi menolak untuk cuci darah. Rugi sekali jika tidak menggunakan peluang dan fasilitas ini.

Semoga ini jadi bahan renungan untuk kita yang mempunyai keluarga, kerabat ataupun sahabat yang menderita gagal ginjal. Gagal ginjal bukanlah akhir dari segalanya. Orang bisa saja menderita gagal ginjal, tapi jangan gagal hidup.
Salam semangat

Kamis, 10 Mei 2012

Anemia Disease


What is anemia?

Anemia is a medical condition in which the red blood cell count orhemoglobin is less than normal. The normal level of hemoglobin is generally different in males and females. For men, anemia is typically defined as hemoglobin level of less than 13.5 gram/100 ml and in women as hemoglobin of less than 12.0 gram/100 ml. These definitions may vary slightly depending on the source and the laboratory reference used.

What causes anemia?

Any process that can disrupt the normal life span of a red blood cell may cause anemia. Normal life span of a red blood cell is typically around 120 days. Red blood cells are made in the bone marrow.
Anemia is caused essentially through two basic pathways. Anemia is caused by either:
  1. a decrease in production of red blood cells or hemoglobin, or
  2. an increase in loss or destruction of red blood cells.
A more common classification of anemia (low hemoglobin) is based on the Mean Corposcular Volume (MCV) which signifies the average volume of individual red blood cells.
  1. If the MCV is low (less than 80), the anemia is categorized asmicrocytic anemia (low cell volume).
  2. If the MCV is in the normal range (80-100), it is called a normocytic anemia (normal cell volume).
  3. If the MCV is high, then it is called a macrocytic anemia (large cell volume).
Looking at each of the components of a complete blood count (CBC), especially the MCV, a physician can gather clues as to what could be the most common reason for anemia in each patient.
Picture of Red Blood Cells
Picture of Red Blood Cells


Kamis, 13 Oktober 2011

HISTOPLASMOSIS

Apa Histoplasmosis Itu?
Histoplasmosis adalah infeksi oportunistik (IO) yang umum pada orang HIV-positif. Infeksi ini disebabkan oleh jamur Histoplasma capsulatum. Jamur ini berkembang dalam tanah yang tercemar dengan kotoran burung, kelelawar dan unggas, sehingga ditemukan dalam di kandang burung/unggas dan gua. Infeksi menyebar melalui spora (debu kering) jamur yang dihirup saat napas, dan tidak dapat menular dari orang yang terinfeksi.
Jamur ini dapat tumbuh dalam aliran darah orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak, biasanya dengan jumlah CD4 di bawah 150. Setelah berkembang, infeksi dapat menyebar pada paru, kulit, dan kadang kala pada bagian tubuh yang lain. Histoplasmosis adalah penyakit yang didefinisi AIDS.
Gejala awal muncul serupa dengan penyakit flu yang ringan, dan berkembang dengan berbagai gejala, termasuk demam, kelelahan, kehilangan berat badan, hepatosplenomegali (pembengkakan pada hati dan/atau limpa) dan limfadenopati (pembengkakan pada kelenjar getah bening). Kurang lebih 50% pasien mengalami batuk kering, sakit dada dan sesak napas, sementara sejumlah yang lebih kecil mengalami masalah perut-usus dan kulit. Histoplasmosis juga dapat mempengaruhi sumsum tulang, dengan akibat anemia (kurang darah merah), leukopenia (kurang beberapa jenis darah putih) dan trombositopenia (kurang trombosit, dengan akibat darah sulit beku). Kurang lebih separuh penderita mengalami masalah paru; rontgen dada dapat menunjukkan tanda yang khas pada paru. Penyakit paru akibat histoplasmosis serupa dengan TB dan dapat semakin berat selama bertahun-tahun. Histoplasmosis juga dapat mempengaruhi susunan saraf pusat (SSP), dengan sampai 20% pasien mengalami gejala kejiwaan.
Bagaimana Histoplasmosis Didiagnosis?
Ada tes antigen untuk H. capsulatum. Tes ini paling peka dengan contoh air seni, tetapi juga dapat dipakai dengan darah. Histoplasmosis juga dapat didiagnosis dengan membiakkan jamur dari contoh sumsum tulang, tetapi proses ini membutuhkan waktu beberapa minggu.
Dapatkah Histoplasmosis Dicegah?
Cara terbaik untuk mencegah histoplasmosis adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART).
Itrakonazol dapat dipakai untuk mencegah munculnya infeksi jamur termasuk histoplasmosis, namun penggunaannya umumnya tidak diusulkan. Profilaksis terhadap histoplasmosis dapat dipertimbangkan untuk Odha dengan jumlah CD4 di bawah 150 dengan pekerjaan berisiko tinggi (mis. bertani, berkebun, buruh bangunan).
Bagaimana Histoplasmosis Diobati?
Histoplasmosis diobati dengan dua tahap: induksi (terapi awal untuk infeksi akut), dan rumatan atau profilaksis sekunder (terapi terus-menerus untuk mencegah kambuhnya).
Bila infeksinya ringan atau sedang, terapi induksi dilakukan dengan itrakonazol; versi sirup paling baik. Bila penyakit berat, amfoterisin B dapat dipakai pada awal. Amfoterisin B adalah obat yang sangat manjur. Obat ini diinfus secara perlahan, dan dapat mengakibatkan efek samping yang berat. Ada versi amfoterisin B yang baru, dengan obat dilapisi selaput lemak menjadi gelembung kecil yang disebut liposom. Versi ini mungkin menyebabkan lebih sedikit efek samping.
Terapi amfoterisin B biasanya dilakukan selama dua minggu atau lebih, dan pasien umumnya dirawat di rumah sakit selama ini. Karena penguraian obat ini berbeda-beda tergantung pada individu, tingkat obat dalam darah harus dipantau. Setelah terapi awal ini selesai, terapi diteruskan dengan itrakonazol selama 12 bulan atau lebih. Flukonazol tidak efektif untuk mengobati histoplasmosis. Bila histoplasmosis sudah mempengaruhi SSP, biasanya terapi induksi dengan amfoterisin B diteruskan selama 4-6 minggu.
Setelah terapi ini, profilaksis sekunder, biasanya dengan itrakonazol, harus dilakukan seumur hidup. Ada kesepakatan bahwa profilaksis sekunder ini dapat dihentikan bila terapi sudah dilakukan lebih dari 12 bulan, jumlah CD4 di atas 150, ART dipakai selama lebih dari enam bulan, DAN tes pada air seni mendukung.
Garis Dasar
Histoplasmosis adalah penyakit jamur yang cukup umum pada Odha di Indonesia. Jamur tersebut tidak dapat diberantas.
Penyakit ini muncul saat sistem kekebalan tubuh sangat rusak, yaitu dengan jumlah CD4 di bawah 150.
Histoplasmosis biasanya harus diobati pada awal dengan obat yang cukup manjur, amfoterisin B, yang juga menimbulkan efek samping yang berat. Setelah pengobatan awal, terapi harus diteruskan dengan itrakonazol seumur hidup, atau sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi pulih akibat penggunaan ART.
Diperbarui 2 Juni 2010 berdasarkan pedoman DHHS 10 April 2009, dan hlm. AETC cm-515 edisi 2006

Histoplasmosis

Histoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Histoplasma capsulatum. Gejala infeksi ini sangat bervariasi, namun penyakit ini  terutama sekali berefek pada  paru-paru. Kadang organ lain juga bisa terkena dampak dan bisa menjadi fatal jika tidak diobati. Histoplasmosis adalah umum di antara pasien AIDS karena sistem kekebalan rendah.
Gejala
Infeksi histoplasmosis akan dimulai dalam waktu 3 sampai 17 hari setelah terekspos, rata-rata 12-14 hari. Tahap akut histoplasmosis memiliki ciri dengan non-specific respiratory symptoms (simptom pernafasan yang tidak khas), sering batuk atau flu. Sinar X di dada dapat menemukan penyakit ini di paru-paru (pada 40-70% temuan). Kasus histoplasmosis kronis dapat menyerupai tuberkulosis (TBC).
Histoplasmosis adalah paling umum menjadi penyebab malaria mediastinitis, ini penyakit yang masih relatif langka. Infeksi parah dapat menyebabkan hepatosplenomegaly, lymphadenopathy, dan pembesaran adrenal. Luka/lesi cenderung untuk mengalami pengerasan-pengapuran saat penyembuhan.
Histoplasmosis dapat merugika retina mata. Jaringan pada retina akan tergores dan dapat mengalami kebocoran, sehingga kehilangan penglihatan.
Jenis
Histoplasmosis dapat dibagi ke dalam jenis-jenis berikut ini:
  • Primary pulmonary histoplasmosis,
  • Progressive disseminated histoplasmosis,
  • Primary cutaneous histoplasmosis, dan
  • African histoplasmosis.
Mekanisme penyakit
H. capsulatum tumbuh di dalam tanah dan material yang terkontaminasi dengan kotoran burung atau kelelawar (pupuk dari kotoran burung). Jamur ini dapat  ditemukan pada kandang unggas, gua-gua, daerah tempat tinggal kelelawar, dan tempat bertengger burung. Jamur ini bersifat thermally dimorphic: di lingkungan (suhu 25° C) ia tumbuh sebagai mycelium (berwarna coklat), sedangkan pada suhu tubuh (37 ° C pada manusia) ia berubah menjadi ragi. Histoplasmosis tidak menular antar manusia, melainkan dari kontak dengan menghirup spora dari tanah atau pupuk yang mengandung kotoran burung.
Diagnosis
Histoplasmosis dapat didiagnosis melalui sampel yang diambil dari jamur dahak, darah, atau organ yang terinfeksi. Juga dapat didiagnosis melalui deteksi antigens terhadap sampel darah atau urine dengan cara ELISA atau PCR. Juga dapat didiagnosis dengan tes antibodi terhadap Histoplasma di dalam darah. Tes kulit Histoplasma dapat juga menunjukkan apakah seseorang telah terpapar/terekspos penyakit ini, tetapi tidak dapat menunjukkan apakah mereka terkena penyakit (terinfeksi).
Pencegahan
Tindakan kewaspadaan berikut dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terekspos :
  • Hindari daerah yang mungkin menjadi tempat tinggal jamur, misalnya, tumpukan kotoran burung atau kelelawar.
  • Sebelum memulai pekerjaan atau kegiatan yang memiliki risiko untuk terpapar H. capsulatum, gunakan peralatan pelindung yang cukup untuk melindungi kita untuk terhirup spora jamur ini (misalnya dengan memakai masker). Penggunaan sarung tangan karet dan baju pelindung yang menutup seluruh tubuh juga dianjurkan dalam hal ini.
Perawatan
Obat antifungal digunakan untuk merawat kasus parah histoplasmosis akut dan semua kasus penyakit kronis akut dan yang menyebar. Pengobatan penyakit parah pertama melibatkan obat amphotericin B, diikuti itraconazole oral. Pada kasus yang lebih rendah, itraconazole oral atau ketoconazole sudah cukup. Penyakit ini yang tidak bergejala biasanya tidak dirawat.
Sumber: Wikipedia.











img
Foto: dermimages
Deskripsi
Sporotrichosis adalah infeksi jamur yang menyebabkan nodul merah, lembut pada jari-jari, pergelangan tangan, dan lengan. Selain itu, kelenjar getah bening bisa juga terinfeksi.

Gejala
Sporotrichosis diawali dengan luka atau lecet berawarna merah, lembut, dan muncul di bawah kulit jari-jari. Selang beberapa hari sampai beberapa minggu setelah terinfeksi biasanya muncul tanda:
• Nodul menjadi merah muda. Beberapa hari sampai beberapa minggu setelah bintil pertama muncul, kemudian nodul berubah menjadi merah tua. Selanjutnya bercak merah bergerak ke lengan, pergelangan tangan, atau lengan.
• Kedinginan, demam, atau sakit kepala juga dapat terjadi meskipun hal ini jarang dialami penderita.

Perawatan
Sporotrichosis biasanya diobati dengan obat antijamur oral, seperti larutan kalium iodida atau itraconazole. Jika penderita mengalami gejala berat, yang resisten terhadap obat-obatan oral, atau memiliki infeksi di tempat lain dalam tubuh, ahli medis biasanya memberikan amfoterisin B intravena.

Sumber: discovery health











1. Identifikasi
Sporotrichosis adalah penyakit jamur, biasanya menyerang kulit. khususnya pada
ekstremitas, yang dimulai dengan bentuk nodula. Kemudian nodula tumbuh, saluran limfe
menjadi keras seperti kawat dan membentuk rangkaian nodulae, nodulae ini kemudian
menjadi lunak dan membentuk ulcus.
Sendi dan paru-paru jarang terkena begitu pula jarang sekali terjadi infeksi multifokal.
Penyakit biasanya tidak fatal.
479
Konfirmasi laboratorium dilakukan dengan kultur dan biopsi nanah atau eksudat.
Organisme jarang terlihat pada preparat ulas. Biopsi jaringan untuk pemeriksaan
laboratorium, hendaknya diperiksa dengan pengecatan khusus jamur.

2. Agen Penyebab: Sporothrix schenckii, termasuk jamur dimorfik.

3. Distribusi penyakit
Penyakit ini tersebar diseluruh dunia, merupakan penyakit akibat kerja yang menyerang
petani, tukang kebun dan hortikulturis. Penyakit ini muncul sporadis dan sangat jarang.
Pernah dilaporkan terjadi KLB di Afrika Selatan yang enimpa para pekerja tambang emas,
pada waktu itu dilaporkan ada sekitar 3000 penderita; ternyata jamur tumbuh pada kayu
yang dipakai untuk menyangga terowongan tambang.
Pada tahun 1988, 84 orang penderita dilaporkan dari 14 negara bagian di AS, menyerang
pekerja yang bertugas mengepak biji bibit tanaman sejenis conifer dan dipak dengan
sphagnum moss (lumut yang dipakai oleh penjual kembang untuk vas).

4. Reservoir: Tanah, tumbuh-tumbuhan dan kayu yang membusuk.

5. Cara Penularan
Jamur masuk kulit melalui tusukan duri atau tusukan barang tajam lainnya, atau pada
waktu menangani tanaman sejenis lumut atau pada waktu menangani potongan kayu atau
pohon. KLB pernah terjadi pada anak-anak yang bermain dirumput kering dan orang
dewasa yang mengepak rumput kering, Sporotrichosis paru-paru diperkirakan karena
inhalasi dari conidia.

6. Masa Inkubasi: Bentuk limfatik berkembang 1 minggu sampai 3 bulan setelah luka.

7. Masa penularan: Tidak ditularkan dari orang ke orang.

8. Kerentanan dan kekebalan : tidak diketahui dengan jelas.

9. Cara – cara pemberantasan
A. Tindakan pencegahan
Pada industri pengolahan kayu, kayu hendaknya diberi fungisida didaerah dimana
sporotrochosis sering terjadi. Pakailah sepatu bot, baju lengan panjang jika bekerja
mengolah Sphagnum moss (sejenis lumut yang dipakai oleh tukang bungan untuk
menancapkan kembang dalam vas bunga).
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan.
1). Laporan kepada dinas kesehatan setempat, laporan secara resmi tidak perlu, kelas
5 (lihat tentang laporan penyakit menular).
2). Isolasi penderita: Tidak perlu
3). Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dan pembalut luka.
Pembersih terminal.
4). Karantina: tidak perlu
5). Imunisasi terhadap kontak: tidak ada
480
6). Investigasi kontak dan sumber infeksi: cari dan temukan penderita yang belum
terdiagnosa dan yang belum diobati.
7). Pengobatan spesifik: Iodida oral dan itraconazole efektif untuk mengatasi infeksi
limfokutaneus, sedangkan untuk infeksi ekstrakutaneus adalah amphotericin B
(Fungizone ®), itraconazole juga efektif.
C. Upaya penanggulangan wabah: Pada waktu terjadi wabah di Afrika Selatan pada
pekerja tambang dilakukan penyemprotan terhadap kayu-kayu yang dipakai
dipertambangan menggunakan zinc sulfate dan triolith. Selain itu dilakukan juga
upaya sanitasi
D. Implikasi bencana: tidak ada
E. Tindakan Internasional: tidak ada