DAFTAR MEMBER ORIFLAME

DAFTAR MEMBER ORIFLAME
CEPAT DAN GA RIBET !
Tampilkan postingan dengan label KIMIA KLINIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIMIA KLINIK. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Mei 2012

HYPERGLICEMIA MENJADI PENYEBAB DARI

Diabetes mellitus

Hiperglikemia kronis yang tetap ada bahkan di negara-negara puasa ini paling sering disebabkan oleh diabetes melitus, dan hiperglikemia kronis kenyataannya adalah karakteristik mendefinisikan penyakit. Intermiten hiperglikemia mungkin ada di negara-negara prediabetic. Episode akut hiperglikemia tanpa penyebab yang jelas dapat mengindikasikan diabetes atau kecenderungan untuk gangguan ini.
Pada diabetes mellitus, hiperglikemia biasanya disebabkan oleh tingkat insulin rendah (Diabetes mellitus tipe 1) dan / atau dengan resistensi terhadap insulin pada tingkat sel (Diabetes mellitus tipe 2), tergantung pada jenis dan keadaan penyakit. Tingkat insulin rendah dan / atau resistensi insulin mencegah tubuh dari mengkonversi glukosa menjadi glikogen (sumber pati seperti sebagian besar energi yang tersimpan dalam hati), yang pada gilirannya membuat sulit atau tidak mungkin untuk menghilangkan kelebihan glukosa dari darah. Dengan tingkat glukosa normal, jumlah total glukosa dalam darah pada saat tertentu hanya cukup untuk menyediakan energi untuk tubuh selama 20-30 menit, dan kadar glukosa harus tepat dipelihara oleh mekanisme internal tubuh kontrol. Ketika mekanisme gagal dalam cara yang memungkinkan glukosa untuk naik ke tingkat normal, hiperglikemia hasilnya.

Obat

Obat tertentu meningkatkan risiko hiperglikemia, termasuk beta blockers, epinefrin, diuretik thiazide, kortikosteroid, niasin, pentamidin, inhibitor protease, L-asparaginase, dan beberapa agen antipsikotik. Administrasi akut stimulan seperti amfetamin biasanya menghasilkan hiperglikemia, penggunaan kronis, bagaimanapun, menghasilkan hipoglikemia.

Penyakit Kritis

Sebagian besar dari pasien yang menderita suatu stres akut seperti infark stroke atau miokard dapat mengembangkan hiperglikemia, bahkan dalam adanya diagnosis diabetes. Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa ini tidak jinak, dan bahwa hiperglikemia yang diinduksi stres dikaitkan dengan risiko tinggi kematian setelah infark miokard stroke dan.
Glukosa plasma> 120 mg / dl dengan tidak adanya diabetes merupakan tanda klinis dari sepsis.
Trauma fisik, operasi dan berbagai bentuk stress berat sementara dapat meningkatkan kadar glukosa.

Fisiologis stres

Hiperglikemia terjadi secara alami selama masa infeksi dan peradangan. Ketika tubuh stres, katekolamin endogen yang dirilis itu - antara lain - berfungsi untuk meningkatkan kadar glukosa darah. Jumlah kenaikan bervariasi dari orang ke orang dan dari respon inflamasi terhadap respon. Dengan demikian, tidak ada pasien dengan hiperglikemia pertama kali harus didiagnosis segera dengan diabetes jika pasien yang sakit bersamaan dengan sesuatu yang lain. Pengujian lebih lanjut, seperti glukosa plasma puasa, glukosa plasma acak, atau dua jam postprandial glukosa tingkat plasma, harus dilakukan.


Kamis, 17 Mei 2012

PROSES DEFEKASI


Buang air besar (biasanya disingkat menjadi BAB) atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan mahkluk hidup. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar.
Gerakan peristaltis dari otot-otot dinding usus besar menggerakkan tinja dari saluran pencernaan menuju ke rektum. Pada rektum terdapat bagian yang membesar (disebut ampulla) yang menjadi tempat penampungan tinja sementara. Otot-otot pada dinding rektum yang dipengaruhi oleh sistem saraf sekitarnya dapat membuat suatu rangsangan untuk mengeluarkan tinja keluar tubuh. Jika tindakan pembuangan terus ditahan atau dihambat maka tinja dapat kembali ke usus besar yang menyebabkan air pada tinja kembali diserap, dan tinja menjadi sangat padat. Jika buang air besar tidak dapat dilakukan untuk masa yang agak lama dan tinja terus mengeras, konstipasi dapat terjadi. Sementara, bila ada infeksi bakteri atau virus di usus maka secara refleks usus akan mempercepat laju tinja sehingga penyerapan air sedikit. Akibatnya, tinja menjadi lebih encer sehingga perut terasa mulas dan dapat terjadi pembuangan secara tanpa diduga. Keadaan demikian disebut dengan diare.

Ketika rektum telah penuh, tekanan di dalam rektum akan terus meningkat dan menyebabkan rangsangan untuk buang air besar. Tinja akan didorong menuju ke saluran anus. Otot sphinter pada anus akan membuka lubang anus untuk mengeluarkan tinja.

Selama buang air besar, otot dada, diafragma, otot dinding abdomen, dan diafragma pelvis menekan saluran cerna. Pernapasan juga akan terhenti sementara ketika paru-paru menekan diafragma dada ke bawah untuk memberi tekanan. Tekanan darah meningkat dan darah yang dipompa menuju jantung meninggi.
Buang air besar dapat terjadi secara sadar dan tak sadar. Kehilangan kontrol dapat terjadi karena cedera fisik (seperti cedera pada otot sphinter anus), radang, penyerapan air pada usus besar yang kurang (menyebabkan diare, kematian, dan faktor faal dan saraf).

Senin, 14 Mei 2012

Tes untuk Fertilitas Pria


Walaupun pendapat umum mengatakan infertilitas merupakan masalah wanita, ternyata hampir setengah kasus infertilitas melibatkan pria. Faktanya, sekitar 20% – 30% laki-laki mengalami fertilitas rendah yang menjadi hambatan untuk terjadinya kehamilan. Karenanya, merupakan hal yang krusial jika seorang pria melakukan tes fertilitas layaknya wanita. Evaluasi mengenai fertilitas pria dapat dilakukan oleh seorang urologis, yang dapat dimulai dengan :
  • Wawancara mengenai riwayat reproduksi, apakah pernah dioperasi atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
  • Wawancara mengenai lifestyle termasuk olahraga, merokok dan penggunaan obat
  • Pemeriksaan fisik
  • Apakah memiliki masalah dalam hubungan sex atau pernah terkena penyakit menular seksual.
Tes Fertilitas Pria: Analisis Semen
Analisis semen merupakan salah satu tes yang sering dilakukan untuk menguji kesuburan pria. Tes ini memberikan informasi penting mengenai kualitas dan kuantitas sperma. Sampel semen dianalisis berdasarkan volume, viskositas, pH, warna, konsentrasi, motilitas, dan morfologinya. Sampel tersebut juga diperiksa apakah terdapat sel darah putih atau merah yang mengindikasikan terjadinya infeksi atau inflamasi. Namun, analisis semen ini tidak dapat mengukur fungsi sperma, apakah sperma cukup bagus untuk melakukan fertilisasi. Tes lain yang dapat mengukur kualitas sperma adalah the Sperm Chromatin Structure Assay (SCAS).
Acuan normal sperma yang berdasarkan WHO:
morfologi
  • Volume: 1.5-5.0 ml
  • Sperm Density: >20 million sperm/ml
  • Motility: >50%
  • Morphology: >30% normal forms
  • Forward Progression: (scale 1-4) 2+
  • Viscosity: No Hyperviscosity
  • White blood cells: 0-5 per high power field
Cara Pengambilan SampelPersiapan yang perlu dilakukan sebelum pengambilan sampel adalah tidak melakukan hubungan seks atau melakukan aktivitas yang menyebabkan ejakulasi 2-3 hari sebelumnya. Pengambilan sampel semen dapat dilakukan dengan masturbasi atau pada saat intercourse dengan menggunakan kondom khusus.Sampel semen sebaiknya ditampung pada container laboratorium steril. Sebaiknya sampel segera diperiksa dalam waktu 2 jam setelah pengambilan karena semakin cepat sampel diperiksa akan semakin sesuai hasilnya.
sperm's anatomy
Analisis semen ini minimal dilakukan sebanyak dua kali dalam waktu yang tidak berdekatan karena jumlah sperma cenderung fluktuatif. Hasil yang abnormal mungkin mengarah pada masalah kesuburan pria. Misalnya jika jumlah sperma rendah atau sangat tinggi akan menyebabkannya kurang fertile. Abnormalititas volume sperma jarang ditemukan biasanya berhubungan dengan masalah kelenjar aksesoris-vesika seminalis dan prostat- yang memproduksi cairan seminalis. Semen yang terlalu sedikit menyebabkan sperma sulit untuk mencapai serviks sedangkan semen yang terlalu banyak dapat mengencerkan sperma sehingga menurunkan konsentrasinya.  pH sperma: normalnya pH sperma adalah alkaline (basa) yang dapat melindungi sperma dari cairan vagina yang asam. PH sperma yang asam mengindikasikan masalah pada fungsi vesika seminalis apakah itu tidak adanya vesika seminalis atau obstruksi pada duktus ejakulatorius. Viskositas: selama ejakulasi semen disemburkan dalam bentuk cairan yang dilapisi gel. Gel ini harus mencair dalam waktu 30 menit agar sperma dapat bergerak bebas. Jika gagal, hal ini mengindikasikan adanya infeksi pada vesika seminalis dan prostat.  Terdapatnya fruktosa: diproduksi oleh vesika seminalis dan berfungsi menyediakan energi bagi sperma untuk bergerak. Absennya fruktosa indikasi adanya blok pada saluran reproduksi pria pada tingkat duktus ejakulatorius. Morfologi: sperma yang baik harus memiliki kepala berbentuk oval, dengan bagian tengah sebagi penghubung dan ekor yang panjang dan lurus. Jika terlalu banyak sperma yang memiliki bentuk abnormal (teratozoospermia) ini dapat berarti sperma memiliki fungsi yang abnormal dan tidak akan mampu untuk membuahi sel telur. Motilitas: terdapat 2 tipe sperma yaitu sperma yang dapat berenang dan yang tidak. Grade 1 (fast progressive) sperma berenang cepat ke depan dalam garis lurus seperti misil. Grade 2 (slow progressive) sperma berenang ke depan baik dalam garis lurus ataupun melengkung. Grade 3 (nonprogressive) sperme bergerak memindahkan ekornya namun tidak bergerak ke depan (motilitas lokal). Grade 4 (immotile) sperma tidak bergerak sama sekali. Sperma grade 3 dan 4 dikategorikan kualitas rendah ini mengindikasikan testis menghasilkan sperma berkualitas rendah dan tidak berfungsi dengan baik.
Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan fisik yang baik dapat mendeteksi varicocoeles (katup pada pembuluh vena di sepanjang spermatic cord mencegah darah mengalir dengan baikàdapat disebabkan oleh tumor ginjal). Pemeriksaan fisik juga dapat mengukur ukuran testis.
Evaluasi HormonTestosterone, dan beberapa hormon diproduksi di otak, kontrol produksi sperma. Walaupun begitu hormon bukan masalah utama dari 97% laki laki infertil. Namun para ahli menekankam untuk mencari penyebab infertilitas sebesar apapun itu.
Tes GenetikTes genetik dapat mengidentifikasi masalah pada fertilitas, dan masalah dengan sperma
Edukasi
CDC merumuskan 5 langkah menuju kehamilan sehat yaitu:
  • Konsumsi 400 mikrogram asam folat setiap hari paling tidak 1 bulan sebelum kehamilan untuk mencegah birth defect.
  • Hindari rokok dan minuman beralkohol
  • Jika memiliki masalah kesehatan, pastikan dalam keadaan terkontrol. Mencakup kondisi tertentu seperti asma, diabetes, kesehatan mulut, obesitas, atau epilepsy.
  • Konsultasikan dengan dokter apakah ada obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi termasuk suplemen serat atau herbal.
  • Hindari kontak dengan substansi toksik atau hal yang dapat menyebabkan infeksi. Jauhi alat – alat kimia dan kucing.
Waktu bersenggama: Periksa pemahaman pasangan mengenai siklus ovulasi dan hubungkan hari paling subur dengan lamanya siklus wanita, Nasehati untuk melakukan senggama secara teratur. Dua hingga tiga kali selama seminggu sudah mencakup masa subur.
Sources:
  • Zieve D. Semen analysis. Updated 22 maret 2010. Diunduh dari:http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003627.htm pada 20 oktober 2010
  • Center for male reproductive medicine and vasectomy reversal. Semen analysis. 2010. Diunduh dari:http://malereproduction.com/male-infertility/semen-analysis/ pada 20 oktober 2010
  • Anonym. Fertility tests for men. Diunduh dari: http://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/guide/male-fertility-test pada 20 oktober 2010
  • Malpani A. Male Infertility Testing : Semen Analysis & Male Fertility Test. Diunduh dari:http://www.drmalpani.com/book/chapter4a.html pada 21 oktober 2010
  • Anonym. Pregnancy. Updated on 1 april 2010. Diunduh dari:http://www.cdc.gov/ncbddd/pregnancy_gateway/trouble.html pada 21 oktober 2010

Cara Melakukan Analisis Sperma



Analisis sperma di perlukan untuk mengetahui subur tidaknya seorang pria. Hasil pemeriksaan akan mentukan jenis terapi yang di butuhkan. Untuk kemudahan dan kenyamanan pria yang hendak diperiksa, banyak klinik fertilitas telah memiliki tempat yang mampu memberikan privasi bagi seorang pria untuk mengeluarkan sperma yang hendak diperiksa melalui masturbasi.
Tempat tersebut disebut Spermatorium dan biasanya terletak bersebelahan dengan ruang pemeriksaan pada klinik fertilitas. Tujuan dari letak spermatorium yang dekat dengan ruang pemeriksaan adalah agar tersedianya sperma sebagai sampel yang memenuhi kriteria kualitas dan waktu sehingga dapat diperiksa secara optimal.
Berikut ini beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam analisis sperma untuk mendapatkan sperma yang layak uji:
  1. Anda atau suami Anda yang hendak memeriksakan kesuburannya diharuskan untuk tidak melakukan aktivitas seksual yang berakibat pada ejakulasi sperma (seperti hubungan seksual dan masturbasi) sekurang-kurangnya 2 hari sebelum pengambilan sampel atau tidak lebih dari 7 hari sebelum pengambilan sampel.
  2. Pemeriksaan dilaksanakan dua kali dengan selisih waktu 7 hari sampai dengan 3 bulan antara masing-masing waktu pengambilan sampel. Apabila terdapat perbedaan hasil yang signifikan antara kedua buah sampel yang diambil pada waktu yang berbeda tersebut, dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan ulang. Sebaiknya, produksi dan pengambilan sampel dilaksanakan pada ruangan yang menjamin privasi dan terletak dekat dengan laboratorium. Hal tersebut bertujuan agar sampel dapat sesegera mungkin diperiksa. Oleh karena itu, banyak laboratorium yang diperlengkapi dengan ruangan khusus untuk melakukan pengambilan Sperma. Ruangan tersebut mampu memberikan privasi bagi pria untuk melakukan masturbasi. Apabila lokasi pengambilan sampel tidak berdekatan dengan laboratorium, sampel harus dikirim ke laboratorium tidak lebih dari 1 jam.
  3. Sampel harus disimpan dalam wadah yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat membunuh atau mengurangi kualitas sperma. Biasanya, wadah tersebut berbentuk gelas ataupun plastik yang bersih dan bebas dari bahan toksik.
  4. Kondom yang biasa digunakan, sebagian besar mongandung zat yang mampu membunuh atau menurunkan kualilitas spermatozoa sehingga kondom seperti ini tidak boleh digunakan dalam tahap pengambilan sampel untuk pemeriksaan sperma. Sperma yang didapatkan dari coitus interruptus juga tidak layak untuk diperiksa. Hal tersebut karena adanya kemungkinan yang pertama kali keluar pada semburan pertama dari ejakulasi tidak berhasil dimasukkan ke dalam wadah pengumpul sperma untuk pemeriksaan. Sperma dari semburan pertama pada ejakulasi dianggap penting karena di situlah terdapat konsentrasi tertinggi spermatozoa dalam sperma.
  5. Sampel tidak boleh dibiarkan pada lingkungan dengan temperatur kurang dari 20°C atau lebih dari 40°C.
Apabila semua hal tersebut telah Anda atau suami Anda penuhi, kebenaran dari uji kesuburan sepenuhnya tergantung pada keterampilan dan profesionalitas dari klinik kesuburan yang memeriksa. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih klinik kesuburan yang akan dijadikan tempat pemeriksaan dan pengobatan Anda atau suami Anda.
Bayangkan saja apabila sebenarnya Anda atau pasangan Anda subur dan tidak memiliki masalah dengan alat reproduksi, tetapi karena ketidakterampilan dari dokter ataupun analis yang memeriksa salah satu atau Anda berdua dikatakan tidak subur. Tidakkah Anda menjadi stress?
Coitus interruptus adalah istilah medis yang mengandung arti dikeluarkannya sperma diluar tubuh wanita saat pria dan wanita melakukan hubungan seksual. Puncak kepuasan seksual yang dirasakan pria saat melakukan ejakulasi sperma dapat dirasakan sejak sesaat sebelum sperma tersebut dikeluarkan.
Oleh karena itu, pria yang hendak mengeluarkan sperma di luar tubuh sang wanita, baik sebagai tindakan untuk mencegah kehamilan maupun didasari alasan lainnya, dapat menyadari kapan waktunya mengeluarkan alat genital pria dari dalam genital wanita saat berhubungan seksual.
Meskipun demikian, kecepatan, kontrol tubuh, serta kesadaran pria seringkali terlambat untuk melakukan langkah coitus interruptus tersebut. Akibatnya, sebagian atau seluruh sperma dikeluarkan dalam genital wanita.