DAFTAR MEMBER ORIFLAME

DAFTAR MEMBER ORIFLAME
CEPAT DAN GA RIBET !
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Menular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Menular. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

Sporotrichosis



1. Identifikasi
Sporotrichosis adalah penyakit jamur, biasanya menyerang kulit. khususnya pada
ekstremitas, yang dimulai dengan bentuk nodula. Kemudian nodula tumbuh, saluran limfe
menjadi keras seperti kawat dan membentuk rangkaian nodulae, nodulae ini kemudian
menjadi lunak dan membentuk ulcus.
Sendi dan paru-paru jarang terkena begitu pula jarang sekali terjadi infeksi multifokal.
Penyakit biasanya tidak fatal.
479
Konfirmasi laboratorium dilakukan dengan kultur dan biopsi nanah atau eksudat.
Organisme jarang terlihat pada preparat ulas. Biopsi jaringan untuk pemeriksaan
laboratorium, hendaknya diperiksa dengan pengecatan khusus jamur.

2. Agen Penyebab: Sporothrix schenckii, termasuk jamur dimorfik.

3. Distribusi penyakit
Penyakit ini tersebar diseluruh dunia, merupakan penyakit akibat kerja yang menyerang
petani, tukang kebun dan hortikulturis. Penyakit ini muncul sporadis dan sangat jarang.
Pernah dilaporkan terjadi KLB di Afrika Selatan yang enimpa para pekerja tambang emas,
pada waktu itu dilaporkan ada sekitar 3000 penderita; ternyata jamur tumbuh pada kayu
yang dipakai untuk menyangga terowongan tambang.
Pada tahun 1988, 84 orang penderita dilaporkan dari 14 negara bagian di AS, menyerang
pekerja yang bertugas mengepak biji bibit tanaman sejenis conifer dan dipak dengan
sphagnum moss (lumut yang dipakai oleh penjual kembang untuk vas).

4. Reservoir: Tanah, tumbuh-tumbuhan dan kayu yang membusuk.

5. Cara Penularan
Jamur masuk kulit melalui tusukan duri atau tusukan barang tajam lainnya, atau pada
waktu menangani tanaman sejenis lumut atau pada waktu menangani potongan kayu atau
pohon. KLB pernah terjadi pada anak-anak yang bermain dirumput kering dan orang
dewasa yang mengepak rumput kering, Sporotrichosis paru-paru diperkirakan karena
inhalasi dari conidia.

6. Masa Inkubasi: Bentuk limfatik berkembang 1 minggu sampai 3 bulan setelah luka.

7. Masa penularan: Tidak ditularkan dari orang ke orang.

8. Kerentanan dan kekebalan : tidak diketahui dengan jelas.

9. Cara – cara pemberantasan
A. Tindakan pencegahan
Pada industri pengolahan kayu, kayu hendaknya diberi fungisida didaerah dimana
sporotrochosis sering terjadi. Pakailah sepatu bot, baju lengan panjang jika bekerja
mengolah Sphagnum moss (sejenis lumut yang dipakai oleh tukang bungan untuk
menancapkan kembang dalam vas bunga).
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan.
1). Laporan kepada dinas kesehatan setempat, laporan secara resmi tidak perlu, kelas
5 (lihat tentang laporan penyakit menular).
2). Isolasi penderita: Tidak perlu
3). Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dan pembalut luka.
Pembersih terminal.
4). Karantina: tidak perlu
5). Imunisasi terhadap kontak: tidak ada
480
6). Investigasi kontak dan sumber infeksi: cari dan temukan penderita yang belum
terdiagnosa dan yang belum diobati.
7). Pengobatan spesifik: Iodida oral dan itraconazole efektif untuk mengatasi infeksi
limfokutaneus, sedangkan untuk infeksi ekstrakutaneus adalah amphotericin B
(Fungizone ®), itraconazole juga efektif.
C. Upaya penanggulangan wabah: Pada waktu terjadi wabah di Afrika Selatan pada
pekerja tambang dilakukan penyemprotan terhadap kayu-kayu yang dipakai
dipertambangan menggunakan zinc sulfate dan triolith. Selain itu dilakukan juga
upaya sanitasi
D. Implikasi bencana: tidak ada
E. Tindakan Internasional: tidak ada

10 Penyakit Menular dan Mematikan di Dunia

10 penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya.

1. Wabah influenza
Wabah flu babi yang menyerang beberapa negara saat ini tidak separah wabah flu yang pernah ada dalam sejarah. Tapi dengan banyaknya orang di bumi yang kebanyakan berdiam di kota dan bepergian dengan mudah, membuat potensi wabah ini tidak akan mudah diatasi.

Wabah influenza pada tahun 1918 pernah melanda dunia dalam beberapa bulan dan membunuh lebih dari 50 juta orang. Angka ini sangat luar biasa jika dibandingkan penyakit lainnya yang tercatat dalam sejarah untuk jangka waktu singkat.

Tidak seperti beberapa jenis virus flu yang banyak membunuh orang tua, anak-anak, dan orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, virus flu tahun 1918 ini menyerang orang dewasa muda. Dalam satu tahun, rata-rata harapan hidup menurun sebesar 12 tahun.

2. Wabah pes
Sampai saat ini, belum ada yang dapat mengalahkan wabah di Eropa pada abad ke-14 atau disebut juga Wabah Bubonic. Sebanyak 75 juta orang meninggal dari populasi awal sebesar 360 juta.

Wabah ini disebabkan bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh hewan pengerat dan kucing, namun menjadi sangat mematikan saat ditularkan antar manusia. Gejalanya meliputi demam, meriang, lemas serta kelenjar getah bening yang bengkak dan nyeri. Bahkan sampai saat ini, wabah ini dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Wabah abad 14 ini mengaktifkan bakteri langka yang telah terbengkalai selama berabad-abad di gurun Gobi, Asia. Setelah menyerang Eropa di tahun 1320, bakteri ini berkembang sepanjang rute perdagangan dari Cina melalui Asia dan akhirnya ke Italia pada tahun 1347, kemudian sempat menyerang Rusia.

3. Penyakit akibat gigitan hewan : malaria, demam berdarah, chagas
Berbagai penyakit yang disebabkan oleh gigitan hewan telah membunuh ratusan ribu orang setiap tahun. Kebanyakan penyakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk.

Malaria menginfeksi lebih dari 350 juta orang setiap tahun, dan lebih dari 1 juta orang meninggal dunia yang kebanyakan anak-anak muda di Afrika selatan Sahara. Sedang nyamuk demam berdarah menginfeksi sekitar 50 juta orang setiap tahunnya, yang mana 500.000 dirawat di rumah sakit dan 2,5 persen di antaranya meninggal.

Selain akibat gigitan nyamuk, rabies membunuh sekitar 55.000 orang di seluruh dunia setiap tahunnya, sebagian besar kasus terjadi di Asia dan Afrika. Sebagian besar kematian tersebut diakibatkan gigitan anjing peliharaan yang terinfeksi.

Sekitar 16 juta orang atau lebih di Meksiko hingga Argentina diperkirakan terserang penyakit Chagas yang ditularkan dari kotoran kutu pemakan darah triatomines atau biasa disebut 'kutu pencium'. Chagas banyak disebarkan oleh anjing atau ayam yang disimpan dalam ruangan pada malam hari, sehingga memungkinkan kutu mengigit manusia.

4. HIV / AIDS
HIV atau virus penyebab AIDS berasal dari simpanse atau primata lain dan diperkirakan telah menginfeksi manusia sejak satu abad yang lalu. Virus ini menghancurkan sistem kekebalan tubuh dan memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi mematikan atau kanker. Salah satu penyakit yang dipicu AIDS adalah tuberkulosis yang membunuh hampir seperempat juta orang yang hidup dengan HIV setiap tahunnya.

Pada akhir 2007, diperkirakan 33 juta orang mengidap HIV, ditambah sekitar 2,7 juta kasus baru untuk tahun 2011. Sekitar 2 juta di antaranya meninggal dunia, termasuk 270.000 anak-anak.

5. Parasit penyebab gila : toxoplasma
Parasit Toxoplasma gondii menginfeksi otak lebih dari setengah populasi manusia, termasuk sekitar 50 juta orang di Amerika. Parasit ini diperkirakan dapat meningkatkan risiko neurotisisme dan dapat menyebabkan skizofrenia. Gejala awalnya pada manusia menyerupai flu.

Kucing rumah yang dibiarkan menjelajah oleh pemiliknya adalah lebih rentan terserang, biasanya didapatkan dari kotoran kucing. Tak hanya kucing, parasit ini juga ditemukan pada mamalia lain di mana ia dapat bereproduksi secara aseksual.

6. Borok perut 
Helicobacter pylori adalah bakteri patogen yang menyebabkan borok usus pada manusia. Bakteri ini diduga berasal dari singa, cheetah dan macan. Penyakit ini masih berlanjut sampai hari ini pada kucing besar.

7. Ebola
Ebola adalah ancaman bagi gorila dan simpanse di Afrika Tengah. Virus ini bisa menular antar manusia melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Ebola telah menewaskan beberapa ratus orang pada pertengahan tahun 1970-an dan dapat disebarkan oleh kelelawar yang tidak mati meski terinfeksi.

Gejalanya cukup mengerikan yaitu demam mendadak, rasa lemah yang intens, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan, seringkali diikuti dengan muntah-muntah, diare, ruam pada ginjal, gangguan pada fungsi hati. Dalam beberapa kasus menyebabkan pendarahan internal maupun eksternal.

8. Polio, frambusia, Anthrax
Para ilmuwan menduga simpanse di Taman Nasional Gombe Streaming, Tanzania mengidap polio dari manusia. Ada juga kekhawatiran gorila tertular frambusia dari manusia, penyakit yang terkait dengan sifilis namun tidak menular secara seksual.

Gorila dan simpanse di Afrika Barat telah terbunuh oleh wabah antraks, yang diduga berasal dari ternak yang digiring oleh manusia. Namun ada juga kemungkinan kejadian ini disebabkan oleh antraks yang ada secara alami ada di hutan.

9. Virus manusia yang membunuh simpanse : HRSV dan HMPV
Human respiratory syncytial virus (HRSV) dan human metapneumovirus (HMPV) membunuh bayi-bayi di negara berkembang. Hampir semua bayi manusia melakukan kontak dengan kuman, sehingga dapat mengembangkan antibodi secara alami yang dirancang untuk melawan kuman.

Tapi ada bukti virus HRSV dan HMPV yang ditularkan langsung dari manusia ke kera besar liar telah membunuh seluruh populasi simpanse di bagian Afrika Barat pada tahun 1999 hingga 2006.

10. Kutu kemaluan pada manusia
Pada tahun 2007, manusia tertular kutu kemaluan dari gorila sekitar 3 juta tahun lalu. Kutu ini tidak menular karena tidur dengan gorila, tapi jika tidur di sarang gorila atau makan bersama dengan gorila.

Manusia adalah satu-satunya primata yang memiliki kutu kemaluan dan kutu kepala. Simpanse hanya memiliki kutu kepala, dan gorilla memiliki kutu pada kemaluannya. Demikian tadi pemaparan dari 10 Penyakit Yang Mematikan Dan Bisa Menular Antar Spesies, yang saya kutip dari blog ternama yang banyak membahas seputar kesehatan, dan saya ucapkan terima kasih untuk semua sumber. Sumber: (http://www.detikhealth.com/).
Semoga bermanfaat.

Rabu, 09 Mei 2012

Cara Mencegah Penyakit Hepatitis B




Pencegahan terhadap hepatitis B dapat dilakukan dengan beberapa sebagai cara berikut: 
  1. Imunisasi
Imunisasi lengkap hepatitis B dapat mencegah infeksi VHB selama 15 tahun. Imunisasai hepatitis B diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasi pertama dan kedua diberikan dalam jarak 1 bulan. Sedangkan imunisasi ketiga diberikan 5 bulan setelah imunisasi kedua. Pemberian imunisasi hepatitis B sebaiknya sedini mungkin yaitu saat bayi hendak pulang dari rumah bersalin.
Bagi orang dewasa sebelum diimunisasi, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan untuk melihat kadar anti HBS. Anti HBS adalah antibodi terhadap antigen permukaan VHB (HBs-Ag). Dengan begitu dapat dinilai apakah tubuh telah memiliki kekebalan terhadap hepatitis B atau tidak. Jika tubuh telah memiliki cukup kekebalan terhadap hepatitis B maka imunisasi hepatitis B tidak diperliukan lagi. Namun pada kenyataannya pemeriksaan kadar anti-HBs lebih mahal daripada harga vaksin hepatitis B. Dengan begitu bagi mereka yang beresiko tinggi tertular VHB imunisasi bisa langsung diberikan. 
Imunisasi hepatitis B sangat dianjurkan untuk kelompok orang berikut:
    • Bayi baru lahir
    • Anak dan remaja yang belum mendapat imunisasi hepatitis B
    • Keluarga yang salah satu anggota keluarganya terinfeksi virus hepatitis B
    • Pekerja medis
    • Pekerja laboratorium
    • Penderita gangguan penyakit yang sering cuci darah atau mendapat transfusi darah.
    • Pekerja seks
    • Pengguna narkoba
    • Pecinta tato
  1. Tidak menggunakan barang orang lain
Barang-barang yang dapat menyebabakan luka dapat menjadi media penularan virus hepatitis B. Barang-barang tersebuat antara lain pisau cukur, gunting kuku, sikat gigi, dan lain-lain. 
  1. Melakukan hubungan seks sehat dan aman
Melakukan hubungan seks dengan bergonta ganti pasangan beresiko tinggi tertular hepatitis B. Jika suami atau istri terinfeksi hepatitis B maka sang suami wajib menggunakan kondom saat berhubungan seksual. 
  1. Jika terinfeksi hepatitis B jangan mendonorkan darah
Palang merah Indonesia akan melakukan serangkaian pemeriksaan pada darah yang di donorkan. Jika ternyata sejumlah darah pada bank darah terinfeksi virus hepatitis B maka darah tersebut akan dimusnahkan. 
  1. Bersihkan ceceran darah
Jika ada ceceran darah meski sedikit harus segera dibersihkan. Penggunaan larutan pemutih pakaian diyakini dapat membunuh virus. 

Rhabdomyosarcoma



Soft tissue sarcoma; Alveolar rhabdomyosarcoma; Embryonal rhabdomyosarcoma; Sarcoma botryoides
Last reviewed: May 10, 2012
Rhabdomyosarcoma is a cancerous (malignant) tumor of the muscles that are attached to the bones.
It can occur in many places in the body. The most common sites are the structures of the head and neck, the urogenital tract, and the arms or legs.
Rhabdomyosarcoma is the most common soft tissue tumor in children.

Causes, incidence, and risk factors

The cause of rhabdomyosarcoma is unknown. It is a rare tumor with only several hundred new cases per year throughout the United States.
Some children with certain birth defects are at an increased risk, and some families have a gene mutation that elevates risk. However, the great majority of children with rhabdomyosarcoma do not have any known risk factors.

Symptoms

The most common symptom is a mass that may or may not be painful.
Other symptoms vary depending on location of the tumor.
  • Tumors in the nose or throat may cause bleeding, congestion, swallowing problems, or neurological problems if they extend into the brain.
  • Tumors around the eyes may cause bulging of the eye, problems with vision, swelling around the eye, or pain.
  • Tumors in the ears, may cause pain, hearing loss, or swelling.
  • Tumors in the vagina may be visibly protruding from the opening of the vagina.
  • Bladder and vaginal tumors may cause lead to trouble starting to urinate or having a bowel movement, or poor control of urine.
  • Muscle tumors may lead to a painful lump and are often thought to be an injury.

Signs and tests

Diagnosis of rhabdomyosarcoma is often delayed because of lack of symptoms, and because the tumor may appear at the same time as a recent injury. Early diagnosis is important because rhabdomyosarcoma is an aggressive tumor that spreads quickly.
A complete physical exam should be done. Tests done to diagnose this condition may include:
  • Biopsy of the tumor
  • CT scan of the chest to look for spread of the tumor
  • CT scan of the tumor site
  • Bone marrow biopsy (may show the cancer has spread)
  • Bone scan to look for spread of the tumor
  • MRI scan of the tumor site
  • Spinal tap (lumbar puncture)

Treatment

The precise treatment depends on the site and type of rhabdomyosarcoma. Because of its rarity, this tumor is best treated at a center with experience treating many patients with rhabdomyosarcoma.
Either radiation or chemotherapy, or both, will be used before or after surgery. In general, surgery and radiation therapy are used to treat the primary site of the tumor. Chemotherapy is used to treat disease at all sites in the body.
Chemotherapy is an essential part of treatment to prevent further spread of the cancer. Many different chemotherapy drugs are active against rhabdomyosarcoma. Some of these drugs include:

Support Groups

The stress of illness can often be helped by joining a support group where members share common experiences and problems. Seecancer - support group.

Expectations (prognosis)

While aggressive treatment is usually necessary, most children with rhabdomyosarcoma will achieve long-term survival. Cure depends on the specific type of tumor, its location, and the amount that has spread.

Complications

  • Complications from chemotherapy
  • Location in which surgery is not possible

Calling your health care provider

Call your health care provider if your child has symptoms of rhabdomyosarcoma.

References

  1. Arndt CAS. Soft Tissue Sarcomas. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007:chap 500.
  2. National Comprehensive Cancer Network Clinical Practice Guidelines in Oncology: Soft Tissue Sarcoma. National Comprehensive Cancer Network; 2009. Version 2.2009.